Tabik Buat Sahim Dan Ruhiyat
31 Juli 2008
Dr. S.B. Hari Lubis, pakar organisasi dan pimpinan SBHL Consulting, pernah bercerita kepada saya soal pengalamannya menangani sebuah perusahaan besar, yang telah mendirikan banyak cabang di luar Jakarta. Riset yang dilakukan oleh salah seorang pengajar program Magister Manajemen- Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, kira-kira berkenaan dengan seberapa pentingkah peran para branch manager di kantor-kantor cabang, dalam penyelesaian masalah dan kesulitan proyek yang digarap oleh para stafnya.
Hasil temuan riset itu ternyata cukup mengejutkan. Para branch manager dan supervisor yang rata-rata berpendidikan S2 itu dinilai tidak begitu penting keberadaannya, oleh para staf karyawan yang mereka bawahi. Keberadaan mereka justru dianggap memperlambat kinerja. Menurut beberapa staf senior, kalau mereka datang biasanya langsung bikin rapat, minta project report , dan kalau ada masalah lagi-lagi para staf yang dituntut berpikir keras. Para pimpinan cabang cuma memberi nasihat-nasihat klise, wejangan-wejangan normatif saja, yang akhirnya malah memakan waktu setengah hari kerja. "Kerja kita terus jalan, Pak. Meski tanpa keberadaan para kepala cabang. Lebih leluasa malah."seloroh seorang staf senior, dalam interview dengan salah satu senior consultant dari SBHL Consulting.
Usut punya usut, ternyata yang paling dianggap penting keberadaannya di kantor itu bukanlah para branch manager, supervisor atau para staf senior. Melainkan, seorang anak muda lulusan diploma I, yang bertugas mengelola berbagai equipment IT dan menjamin berfungsinya jaringan internet. Tanpa Sahim, demikian ia dipanggil, perusahaan yang memang mengelola usaha seputar content provider seluler dan internet marketing itu bisa terhambat aktivitasnya. Konon katanya, Sahim ini menguasai kode-kode tertentu yang memungkinkannya masuk ke seluruh jaringan cabang dan kantor pusat. Jadi tanpa Sahim, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan akses ke database-database perusahaan tersebut, bisa terbengkalai.
Kisah Sahim mengingatkan saya atas keberadaan Ruhiyat, seorang rekan muda di tempat saya bekerja. Usianyapun masih belia, baru sekitar 21 tahunan, dan kebetulan juga lulusan diploma I komputer.
Di lingkungan anak perusahaan dan korporasi, nama Ruhiyat terkenal sebagai solution maker untuk berbagai kendala operasi IT. Rekan-rekan wanita di kantor saya, sedikit-sedikit pasti mencari dan menghubungi ruangan divisi teknologi untuk memanggil rekan muda saya itu. Bukan karena pemuda asal Ciamis ini sedemikian tampan dan bisa digoda, melainkan karena chatting para karyawati ganjen itu sedang terhambat, gara-gara gangguan atau kesalahan mereka sendiri ketika menjalankan komputer. Sudah salah mereka sendiri- karena gaptek juga nge-chat diwaktu kerja-, yang diomeli malah orang yang berhasil membetulkan kerja komputernya.
"Padahal itu teh ada yang rubah di IP address-nya, Bang. Suka dirubah sendiri sama si teteh-teteh itu."keluh Ruhiyat suatu hari. "Kadang-kadang ada beberapa file penting yang kehapus. Jadi weh sistemnya nggak bisa jalan. Sudah gaptek judes lagi, Bang."
Riset membuktikan, jabatan struktural ternyata belum tentu lebih menentukan dibandingkan tugas fungsional, yang biasanya dikerjakan oleh orang-orang yang gajinya lebih kecil dan dianggap tidak atau kurang penting. Berdasarkan riset SBHL Consulting dan pengalaman saya sendiri, orang yang merasa penting akhirnya malah menjadi tidak penting bagi kolega-koleganya. Orang yang merasa penting, merasa jenderal, merasa direktur, merasa gubernur atau kaisar, akhirnya malah menjadi manusia haram, yang ketiadaannya lebih disukai daripada keberadaannya. Ketiadaannya menjadi manfaat, keberadaannya malah membawa mudharat.
Hasil temuan riset itu ternyata cukup mengejutkan. Para branch manager dan supervisor yang rata-rata berpendidikan S2 itu dinilai tidak begitu penting keberadaannya, oleh para staf karyawan yang mereka bawahi. Keberadaan mereka justru dianggap memperlambat kinerja. Menurut beberapa staf senior, kalau mereka datang biasanya langsung bikin rapat, minta project report , dan kalau ada masalah lagi-lagi para staf yang dituntut berpikir keras. Para pimpinan cabang cuma memberi nasihat-nasihat klise, wejangan-wejangan normatif saja, yang akhirnya malah memakan waktu setengah hari kerja. "Kerja kita terus jalan, Pak. Meski tanpa keberadaan para kepala cabang. Lebih leluasa malah."seloroh seorang staf senior, dalam interview dengan salah satu senior consultant dari SBHL Consulting.
Usut punya usut, ternyata yang paling dianggap penting keberadaannya di kantor itu bukanlah para branch manager, supervisor atau para staf senior. Melainkan, seorang anak muda lulusan diploma I, yang bertugas mengelola berbagai equipment IT dan menjamin berfungsinya jaringan internet. Tanpa Sahim, demikian ia dipanggil, perusahaan yang memang mengelola usaha seputar content provider seluler dan internet marketing itu bisa terhambat aktivitasnya. Konon katanya, Sahim ini menguasai kode-kode tertentu yang memungkinkannya masuk ke seluruh jaringan cabang dan kantor pusat. Jadi tanpa Sahim, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan akses ke database-database perusahaan tersebut, bisa terbengkalai.
Kisah Sahim mengingatkan saya atas keberadaan Ruhiyat, seorang rekan muda di tempat saya bekerja. Usianyapun masih belia, baru sekitar 21 tahunan, dan kebetulan juga lulusan diploma I komputer.
Di lingkungan anak perusahaan dan korporasi, nama Ruhiyat terkenal sebagai solution maker untuk berbagai kendala operasi IT. Rekan-rekan wanita di kantor saya, sedikit-sedikit pasti mencari dan menghubungi ruangan divisi teknologi untuk memanggil rekan muda saya itu. Bukan karena pemuda asal Ciamis ini sedemikian tampan dan bisa digoda, melainkan karena chatting para karyawati ganjen itu sedang terhambat, gara-gara gangguan atau kesalahan mereka sendiri ketika menjalankan komputer. Sudah salah mereka sendiri- karena gaptek juga nge-chat diwaktu kerja-, yang diomeli malah orang yang berhasil membetulkan kerja komputernya.
"Padahal itu teh ada yang rubah di IP address-nya, Bang. Suka dirubah sendiri sama si teteh-teteh itu."keluh Ruhiyat suatu hari. "Kadang-kadang ada beberapa file penting yang kehapus. Jadi weh sistemnya nggak bisa jalan. Sudah gaptek judes lagi, Bang."
Riset membuktikan, jabatan struktural ternyata belum tentu lebih menentukan dibandingkan tugas fungsional, yang biasanya dikerjakan oleh orang-orang yang gajinya lebih kecil dan dianggap tidak atau kurang penting. Berdasarkan riset SBHL Consulting dan pengalaman saya sendiri, orang yang merasa penting akhirnya malah menjadi tidak penting bagi kolega-koleganya. Orang yang merasa penting, merasa jenderal, merasa direktur, merasa gubernur atau kaisar, akhirnya malah menjadi manusia haram, yang ketiadaannya lebih disukai daripada keberadaannya. Ketiadaannya menjadi manfaat, keberadaannya malah membawa mudharat.
Lain dengan orang seperti Sahim atau Ruhiyat, yang biasanya lebih tawadhu karena merasa sebagai bawahan serta biasa dipandang kecil dan tidak penting. Ketidak-hadiran mereka terbukti berarti masalah pelik, sedang keberadaannya sudah pasti membawa manfaat besar. Menurut seorang rekan, merekalah pahlawan disaat faxcimile kantor ngadat sementara klien hendak mengirim surat. Merekalah pahlawan yang sigap ketika cartridge mesin cetak rusak, sementara proposal harus segera dicetak, kian mendekati saat-saat deadline. Terus terang saya lebih kagum dan menghormati mereka, ketimbang orang-orang berpangkat yang duduk sebagai struktural, yang lebih banyak berkeliling dengan mobil dinas lantas menikmati siang didalam ruang Bi-O-di yang rata-rata dibuat nyaman, dipasangi AC, dan punya telunjuk serta lidah tajam waktu menghadapi para bawahannya. Saya menghormati orang-orang sepeti Sahim dan Ruhiyat karena, mereka selalu merendah dan merasa tidak penting, padahal orang-orang seperti mereka menjadi penting keberadaannya dalam pandangan rekan-rekan kerja. Orang-orang seperti Sahim dan Ruhiyat-lah - menurut Sufyan Ats-Tsaury, seorang tokoh sufi legendaris- yang justru kelak akan "dipanggil", "disambut" dan "dijamu" sebagai "orang penting" oleh Tuhan-nya. Ya, saya ber-tabik untuk mereka berdua. Dan ber-tabik juga untuk mereka yang selalu berusaha menjadi penting, ketimbang ke-ge-eran merasa penting.

Subcribe RSS of this blog
05 Agustus 2008
.. **sensor** makasih **sensor** banyak. **sensor** tulisan **sensor** yang **sensor** penuh **sensor** makna. **sensor** semoga **sensor** saya **sensor** juga **sensor** bisa **sensor** se-tawadhu **sensor** Sahim **sensor** dan **sensor** Ruhiyat...
30 Agustus 2008
Yup..betul **sensor** skali **sensor** orang **sensor** seperti **sensor** Sahim **sensor** dan **sensor** Ruhiyat-lah **sensor** yg **sensor** seharusnya **sensor** menjadi **sensor** contoh **sensor** bagi **sensor** kita. **sensor** Bukannya **sensor** para **sensor** atasan **sensor** yg **sensor** selalu **sensor** otoriter **sensor** dan **sensor** menyalahkan **sensor** **sensor** bawahannya **sensor** walaupun **sensor** dia **sensor** sendiri **sensor** yang **sensor** salah. **sensor** hal **sensor** seperti **sensor** ini **sensor** sering **sensor** terjadi. **sensor** Kita **sensor** harus **sensor** Tawaddu **sensor** dalam **sensor** segala **sensor** hal.
Sukses **sensor** ya! **sensor** semoga **sensor** blog **sensor** Anda **sensor** jd **sensor** juara **sensor** FB!!!!
02 September 2008
ibarat **sensor** bawahan **sensor** menamai **sensor** dirinya **sensor** sendal **sensor** jepit, **sensor** jgn **sensor** salah **sensor** loh **sensor** kl **sensor** atasan **sensor** kehilangan **sensor** sebelah **sensor** sendal **sensor** aja **sensor** ga **sensor** nyaman **sensor** berjalan. **sensor** hehehehe **sensor** intinya **sensor** sy **sensor** dukung **sensor** tulisan **sensor** abang **sensor** eddy.