Agar Tidak Kufur Nikmat
Allah sudah mewanti-wanti, Nabi SAW sendiri sudah ikut menegaskan, bahwa dunia ini hanya tempat permainan belaka. Taufik Ismail, pujangga angkatan 66-pun, melalui syairnya yang kemudian menjadi lirik lagu balada, lirih berkata : "Dunia ini panggung sandiwara..." Namun, biarpun saya sering mendengar khatib Jum`at mengingatkan firman Allah dan sabda Nabi SAW tentang hal tersebut, ditambah-tambah saya juga kerap memutar lagu balada yang memuat lirik syair Taufik Ismail itu, tetap saja saya ini suka mengeluhkan perihal keduniaan saya. Bangun pagi-pagi, yang dikeluhkan soal waktu tidur yang dirasa kelewat cepat, padahal kaki ini rasanya masih enggan untuk diajak bersijingkat. Sampai di jalan raya, yang dikeluhkan soal semrawutnya lalu lintas, plus kesembronoan para pemakainya- dari mulai pejalan kaki yang seenaknya menyeberang, pengendara motor yang kerap nyalip tiba-tiba dari bahu jalan sebelah kiri, atau mobil angkutan kota yang hobi betul berhenti mendadak. Masya Allah. Di pagi hari saja, sudah tak tercatatkan keluhan dan sumpah serapah saya terhadap dunia ini.
Acara keluh-mengeluh yang berawal sejak bangun tidur itu, biasanya bertambah seru dan panas, ketika saya mengobrol dengan kawan atau seseorang yang kebetulan mengeluhkan hal-hal yang sama. Dari hal-hal seputar lalu lintas, topik keluhan kemudian menyeberang ke hal-hal lain, bahkan sering nyasar jadi membahas keburukan kelompok atau individu yang kebetulan berinteraksi dengan diri. Kalau sudah begitu, bawaan hati ini rasanya panas melulu, dan kadar otak ini kalah beratnya dari kadar kerja otot-otot syaraf. Tenaga cepat terkuras padahal baru bekerja sebentar, otak sudah lelah padahal pekerjaan belum sampai pada titik efektif, dan hati berkurang sensitifitasnya sehingga luput menyensor hal-hal yang perlu disensor atau disaring.
Suatu hari, ketika saya sudah sedemikian akrab dengan keluhan demi keluhan, sampai-sampai saya dengar selentingan bahwa kawan-kawan dibelakang menjuluki saya : Si Manja, takdir mempertemukan saya dengan seorang kawan lama. Diawal pertemuan ia membuka percakapan dengan basa-basi,"Kamu makin gemuk saja, Ed." Kalimat pembuka itu memancing respon saya, yang langsung melontarkan bait demi bait keprihatinan- mengeluhkan badan yang kian subur, mengeluhkan pipi yang kian tembem, mengeluhkan kaki yang kerap terserang encok, yang ditengarai dokter lantaran badan saya terlalu gemuk. Mendengar cerocosan itu, kawan saya tersenyum dan berkata,"Hahaha. Kufur nikmat kamu ini. Justru dengan penampilan seperti ini, kamu kelihatan lebih berwibawa, dan enggak culun seperti waktu kuliah dulu. Penampilan kamu penampilan bos, Ed."
"Ya. Bos yang penyakitan barangkali..."keluh saya membalas pujiannya.
"Lho, masalah penyakit semua ada obatnya. Masalah badan biar sehat tinggal olahraga. Tidak perlu dipaksakan mau jadi kurus atau mau jadi gemuk. Yang penting, kalau ada penyakit ya obati, kalau mau sehat ya olahraga. Pelan-pelan juga kamu bisa mencapai tampilan ideal. Jangan banyak mengeluh ah. Dulu kamu ini optimis aja biar sudah kepepet. Sekarang urusan badan saja kamu mengeluh."cerocos kawan lama itu, yang kelihatannya spontan tanpa maksud menyindir sifat saya yang akhir-akhir ini cenderung banyak mengeluh.
Mendengar apa yang dipaparkan kawan lama itu, setelah berpisah dengannya saya jadi teringat sebuah kalimat Aidh Al-Qarni :...cukuplah seseorang dikatakan kufur nikmat, jikalau setiap pagi ia sibuk mengeluhkan keadaan diri. Wah, iya juga ya, pikir saya. Rupanya melalui lisan kawan lama itu, Allah SWT secara tak langsung menegur kecenderungan saya, yang belakangan lebih suka : mengeluh ketimbang bersyukur, menolak ketimbang menerima, dan mengumpat ketimbang memuji. Mata hati saya jadi sulit melihat kebaikan, limpahan nikmat, yang sebetulnya terselip diantara suka-duka hidup duniawi yang memang dibuat tak sempurna ini. Sebab penyakit mengeluh yang kian hari kian parah, yang mana saya juga lalai dari mengobatinya, belakangan memang saya jadi tidak betah dalam segala kondisi. Mendengar rekan sekantor naik haji, hati jadi sedih karena merasa bakal kalah derajat ibadah. Mendengar rekan sekantor promosi, hati jadi dengki menuduh orang yang mengangkatnya sebagai : kurang jeli. Melihat orang baik jadi merasa buruk, melihat orang sukses jadi merasa gagal. Ya, begitu singkatnya.
Setelah tahu penyakit apa yang menjangkiti, segera saja saya mencari obat manjur, agar diri ini tidak lagi digelari : Si Manja, Sang Pengeluh, dan lain-lain gelar yang bakal lebih gawat jika Allah langsung yang menerakannya. Seorang Ustadz yang saya datangi Majelis Ta`lim-nya menasehati,"Supaya kita tidak terjangkit penyakit mengeluh, maka biasakan atau sering-seringlah `melihat ke bawah`. Yaitu, banyak melihat orang-orang yang keadaan fisik, kondisi ekonomi, atau pengalaman-pengalamannya kurang atau tidak seberuntung kita."
Sembari menyunggingkan senyum dan menyapukan pandangan ke seluruh peserta majelis, Ustadz itu menambahkan,"Lebih bagus bila kita mendoakan mereka. Dan jauh lebih bagus lagi jika sembari mendoakan kita juga bersedekah, memberi sesuatu yang bermanfaat untuk menutupi kelemahan-kelemahannya, atau bila mungkin membantu mereka agar bangkit dari keterpurukan."
Nasehat-nasehat Ustadz tersebut meresap ke batin ini, dan menguatkan motivasi saya untuk tidak lagi mengeluhkan perihal-perihal duniawi. Ya, sudahlah. Dunia ini hanya permainan. Dunia ini hanya tempat ujian. Dunia ini hanya panggung sandiwara. Maka dengan kasih sayang-Nya : ia menjadi fana,tak abadi. Dan atas berkah dan rahmat-Nya pula : siapapun yang memahami hakikat dunia dan mengamalkan hakikat tersebut dalam syariat kehidupan sehari-hari, dijanjikan-Nya bakal tinggal dalam kebahagiaan abadi.
Akibat Ketergesa-gesaan
Untuk mempersiapkan diri, sehari sebelum acara reuni SMA itu, saya sengaja membeli baju dan celana jins baru. Potongan rambutpun dirapihkan ke pangkas rambut langganan. Seminggu sebelum itu, saya bahkan sampai menyempatkan diri ke fitness centre, sambil menunggu waktu-waktu berbuka. Anak saya sampai sering komplain, lantaran ayahnya suka pulang terlambat dan semingguan itu jarang buka bareng keluarga."Memangnya pengaruh banyak apa ? Seminggu fitness paling-paling cuma turun sekilo-dua kilo, Bang. Masih tetep kelihatan gemuknya..."kritik Istri yang agak sebal melihat spirit berlebihan saya, sebelum hari reuni tersebut.
Pagi hari tanggal reuni yang telah disepakati, saya sibuk membersihkan mobil yang sebetulnya jarang sekali dicuci."Aduh, tumben pagi-pagi sudah nyuci mobil ?"sindir Istri, yang tampaknya agak cemburu juga menyaksikan serba persiapan saya. Saking semangatnya, sampai-sampai segala sesuatu yang ada dibalik kap mesin mobil, ikut saya bersihkan dan semprot dengan air sabun juga. Saya lupa, bahwa beberapa onderdil dalam dudukan mesin itu tidak boleh terlalu banyak disembur air sabun, sebab bisa membuat mesin mobil terganggu perapiannya. Tanpa menghiraukan himbauan montir bengkel langganan, saya libas seluruh bagian tubuh mobil kesayangan, tanpa melewatkan bagian-bagiannya yang paling 'pribadi.' Saya lupa, bagian-bagian paling 'pribadi' itu alangkah sensitifnya. Bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Tempat reuni yang disepakati hanya butuh waktu 30 menit untuk menjangkaunya. Tapi satu jam sebelum waktu yang ditentukan, saya sudah siap dengan rambut cepak, setelan rapih, badan wangi dan mobil kesayangan yang tumben sekali : catnya tampak begitu mengkilat lagi menyala warnanya. Ada terbersit kekaguman dan berbangga hati melihat hasil pekerjaan saya setengah hari tadi. Wah, kawan-kawan pasti terkagum-kagum dengan sedan keluaran Eropa ini, yang walau produksi lama namun masih memancarkan citra dan kharisma.
Setelah istri dan anak saya selesai berdandan, sayapun bergegas menyiapkan mobil yang akan mengangkut kami bertiga menuju tempat reuni. Inna lillaahi... setelah beberapa kali di-starter, mesin mobil masih belum juga mau menyala. Saya panggil istri untuk membantu. Saya buka kap mobil dan meminta istri untuk men-starter-nya beberapa kali. Masya Allah. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang ditunjukkan oleh mesin mobil yang sudah sekian lama tidak pernah mogok ini. Duh, alangkah gelisahnya perasaan ini, apalagi disaat menyaksikan jarum jam kian mendekati waktu reuni yang disepakati. Diiringi tatapan anak, kata-kata istri yang menyalahkan saya yang tak mengindahkan peringatan agar tidak menyiram dudukan mesin, saya ambil telepon seluler untuk mengabarkan keterlambatan saya hadir di tempat reuni.
"Assalamu'alaikum, Wan. Ini Edi. Duh, sori gue agak telat. Mobil ngadat nih..."
"Telat apaan, Di ?"
"Ya, telat nyampe di B. Coba yang jadi pembawa acara yang lain aja dulu. Gue mau panggil taksi dulu. Setengah jam lagi nyampe sana deh..."
"Lho, acara reuni itu kan besok ? Ini fax dari Lena tempo hari. Terus SMS kamu juga tanggalnya kan besok acara kita itu..."teriak sobat saya, Irwan, diseberang telepon dengan nada aneh bercampur geli.
Saya tatap istri saya yang sedang sibuk geleng-geleng kepala, sambil menunjukkan SMS yang saya kirimkan ke handphone dia, yang mencantumkan tanggal reuni SMA saya. Hehehe. Ternyata dia baru ingat juga. Dan setelah menyeka keringat, menarik nafas lega, saya segera meminta maaf kepada anak dan istri yang semingguan ini telah menjadi korban sifat saya yang serba terburu-buru. Ya, ternyata : sikap tergesa-gesa, semangat berlebihan, tanpa ketelitian, hanya membuat tenaga dan pikiran terkuras percuma. Kasihan juga anak dan istri, yang sudah menyiapkan diri dengan susah-payah untuk menyenangkan sang ayah dan suami, yang begitu bersemangat untuk mengikuti reuni tanpa teliti akan tanggal dan hari H-nya.
Tanda Pudarnya Perhatian Allah
Berkurangnya intensitas dan durasi ibadah di siang hari, kemudian berbanding lurus dengan intensitas dan durasi ibadah di malam hari. Badan yang lelah, pikiran yang penat, membuat saya memilih untuk shalat munfarid, daripada beranjak menyambut panggilan adzan. Lama-lama kebiasaan shalat munfarid itu merembet pada kebiasaan mengakhirkan shalat. Ketika kelelahan luar biasa menyergap saya usai shalat maghrib, adakalanya saya melewatkan shalat isya' awal waktu, dan mulai terbiasa menunaikan shalat penutup malam itu pada pukul setengah tiga dinihari. Mata yang masih berat usai menunaikan shalat isya' dinihari itu, kemudian membujuk saya kembali ke peraduan (tanpa shalat malam) sampai pukul setengah enam pagi. Masya Allah. Saya kemudian malah biasa menunaikan subuh disaat sinar matahari sudah berwarna kuning matang.
Berbulan-bulan lamanya saya menjalani rutinitas ibadah wajib, sebagai sesuatu yang sekunder. Sehingga kemudian dalam suatu pengajian ahad di kompleks tempat saya tinggal, saya mendengar petuah : "...pudarnya perhatian Allah bisa dilihat pada diri kita sendiri, ditandai dengan mulai malas dan kerap melakukan maksiat." Petuah tersebut membuat mata saya berkaca-kaca, dada saya serasa sesak, menginsyafi terbuangnya detik demi detik berharga dalam keseharian saya selama ini.
Selesai pengajian ahad, waktu anak dan istri sudah pergi tidur, sayapun larut dalam kesibukan menghitung diri. Setelah saya berpikir dan mengkaji apa-apa yang saya alami selama periode futur itu, ternyata dengan ibadah yang kualitas dan kuantitasnya pas-pasan, kualitas dan kuantitas saya dalam menyelesaikan urusan duniapun jadi ikut pas-pasan. Ada pekerjaan yang bisa dibilang efektif, tapi sama sekali jauh dari efisien. Ada pekerjaan yang terbilang efisien, tapi hasilnya sungguh tidak bisa dibilang efektif. Wah, tampaknya lalai dalam urusan akhirat bisa berimbas juga pada urusan keduniaan !
Usai muhasabah 30 menit di ruang kerja itu, saya mengambil air wudlu dan jatuh terharu disaat aktivitas wudlu tersebut sampai pada prosesi membasuh wajah. Tidak terkira perasaan sedih didalam hati, disaat menyadari bahwa ikhtiar yang selama ini dijalani ternyata bernilai nol. Ikhtiar dunia yang tanpa dibarengi dengan kekhusyukan ikhtiar akhirat itu, ternyata hanya membuat batin dan jasad ini tersiksa. Terlalu sibuk mengurusi urusan dunia ternyata berarti : sibuk melupakan Rabb dan kampung akhirat. Ketika manusia mulai sibuk dengan dunia, maksiat mulai sering diperbuat. Sebab malas menyempurnakan ikhtiar akhirat, manusia terus melakukan maksiat terkait urusan dunia dan akhiratnya sekaligus. Alhamdulillah. Saya masih diberi kesempatan untuk melihat diri sendiri, sehingga dapat membaca tanda-tanda kemalasan dan beberapa maksiat yang sedikit demi sedikit mulai saya anggap suatu kewajaran. Sampai kemudian Allah memberi peringatan halus lewat petuah seorang Ustadz : : "...pudarnya perhatian Allah bisa dilihat pada diri kita sendiri, ditandai dengan mulai malas dan kerap melakukan maksiat."

Subcribe RSS of this blog